Andi Mantra Bumi: Generasi Muda Harus Kembali Menghidupkan Nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge

Bakula News, Bone – Pemerhati budaya, Andi Mantra Bumi, mengajak generasi muda untuk kembali menghidupkan nilai-nilai lokal yang terkandung dalam budaya Bugis, seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan). Hal tersebut disampaikan saat dirinya menjadi narasumber dalam Dialog Budaya yang digelar di SMAN 7 Bone, pada Minggu (11/5/2025).

Kegiatan ini mengangkat tema Kearifan Lokal dan bertujuan sebagai ruang refleksi bagi para siswa untuk memahami kembali pentingnya karakter dan adab dalam pergaulan. Dalam kesempatan tersebut, Andi Mantra Bumi menegaskan bahwa nilai-nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge merupakan fondasi utama dalam membentuk pribadi yang beradab, santun, dan bertanggung jawab.

“Nilai-nilai ini mengajarkan kita untuk tidak merendahkan orang lain, apalagi dalam pergaulan sesama teman. Kita perlu sadar bahwa sapaan atau candaan yang kita anggap biasa, bisa saja mencederai harga diri orang lain,” ujarnya.

Andi Mantra Bumi juga menyoroti fenomena yang berkembang di kalangan remaja saat ini, di mana bahasa kasar dan julukan negatif sering kali digunakan sebagai bentuk keakraban. “Ini adalah bentuk krisis nilai. Kalau kita memahami sipakatau, maka kita akan menjaga tutur kata dan sikap, karena itu bagian dari adab dalam berteman,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa karakter generasi muda Bugis dibentuk melalui konsep sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Konsep-konsep ini mengajarkan untuk menjaga kata, menjaga lisan, dan menjaga sikap, yang seharusnya menjadi dasar dalam membentuk jati diri yang kuat dan berakhlak.

Dalam konteks pendidikan, Andi Mantra Bumi juga menekankan peran guru sebagai teladan yang penting. “Guru seharusnya memanggil murid dengan sebutan yang penuh kasih seperti ‘anak’ atau ‘anakku’, bukan dengan nada tinggi atau kasar,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa perubahan budaya harus dimulai dari pendidik agar nilai-nilai moral ini dapat disampaikan dengan baik kepada siswa.

Sebagai penegasan, Andi Mantra Bumi mengutip petuah leluhur Bugis yang terkenal: “Namua coppo bolana gurutta nareko yuja-i madora ka toki”, yang artinya, mencela atap rumah guru saja sudah dianggap berdosa. Petuah ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan terhadap guru dalam budaya Bugis.

Kegiatan Dialog Budaya ini disambut antusias oleh siswa dan guru di SMAN 7 Bone. Pihak sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan untuk membentuk karakter siswa yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal, di tengah derasnya arus budaya luar yang membanjiri ruang digital generasi muda saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *