
Tanah Bumbu, BakulaNews – Di tengah menurunnya minat baca generasi muda, di Kabupaten Tanahbumbu muncul sosok inspiratif di dunia literasi. Dia adalah Irma Ningsih, guru muda yang dikenal sebagai pelopor komunitas membaca.
Perempuan kelahiran 2001 ini mengawali kiprahnya di dunia literasi saat menyandang selempang Duta Baca Tanbu. Sebagai bentuk tanggung jawab atas predikat tersebut, Sarjana Matematika Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin ini bersama sejumlah Duta Baca lainnya mendedikasikan waktu, ide, bahkan finansialnya untuk menjalankan Komunitas Pejuang Literasi Tanbu (Pelita). Kini, Irma bahkan dipercaya menakhodai Pelita dan aktif menggarap berbagai kegiatan.
Sejumlah prestasi diraihnya. Teranyar, Irma dinobatkan sebagai Pemuda yang Aktif Berliterasi 2025 dari pemerintah kabupaten. Pada 2024, dia terpilih sebagai Perempuan Berprestasi dan Berjasa Bidang Pendidikan se-Kalimantan Selatan.
Bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tanbu, Irma dan komunitasnya rutin menggelar Lapak Baca. Lapak di ruang terbuka dirancang menarik dan menyenangkan. Mimpinya, Lapak Baca merambah pelosok.
Irma berkeyakinan literasi adalah fondasi segala kemajuan. Tanpa literasi, seseorang akan kesulitan memahami dunia.
Sebagai sarjana matematika, ia menyadari bahwa angka-angka yang selama ini ia pelajari ternyata tidak selalu mampu menjelaskan sisi manusia dari kehidupan. Matematika mengajarkannya ketepatan dan logika, tapi literasi mengajarkannya empati dan makna.
Saat melihat rendahnya minat baca di sekitarnya, Irma merasa terpanggil. Dengan literasi, orang dapat berpikir logis. “Saya memilih untuk menggabungkan keduanya, ketepatan berpikir dari matematika dan kehangatan makna dari literasi,” ungkapnya.
Tantangan terbesar yang dirasakannya selama menjadi Duta Baca adalah ketimpangan akses dan minat baca. Buku ada, tapi tidak sampai ke tangan pembaca. Kegiatan literasi ada, tapi tidak menyentuh akar masyarakat. Banyak inisiatif berhenti di seremoni tanpa kesinambungan.
“Kami merasa perlu mendirikan Pelita agar literasi bisa bergerak secara mandiri dan berkelanjutan namun tetap berkolaborasi dengan pemerintah dan pihak lainnya. Pelita lahir sebagai ruang kolaborasi, bukan hanya untuk membaca, tapi juga menulis, berdiskusi dan menciptakan ekosistem literasi yang hidup,” bebernya.
Irma sering melihat banyak orang memiliki ide dan kepedulian, tapi berhenti di kata-kata. Dari situ ia belajar bahwa suara tanpa makna hanya akan hilang di angin, dan makna tanpa tindakan hanyalah wacana.
Mengenai manajemen waktu, relawan berbagai profesi ini merasa tertantang. Kuncinya, membangun rasa memiliki pada setiap anggota komunitas.
Sebagai Ketua, dia menerapkan prinsip fleksibilitas dan kepercayaan. Mereka membuat sistem jadwal terbuka. Setiap kegiatan dirancang jauh-jauh hari dan disesuaikan dengan ketersediaan anggota. Koordinasi dilakukan melalui grup daring, dan pembagian tugas dibuat berbasis minat dan kapasitas.
“Selain itu, saya menanamkan nilai bahwa kontribusi tidak selalu harus hadir secara fisik, ada yang mengajar, ada yang mengelola konten digital, ada pula yang mendukung dari sisi pendanaan atau ide. Dengan cara ini, semua merasa berperan,” ujar Irma.
Ada empat program unggulan Pelita. Pertama, Kuliah Gratis Public Speaking, yang telah diikuti 45 peserta dari berbagai latar seperti pelajar, mahasiswa, karyawan dan pengusaha. Kemudian Goes to Village ke sekolah terpencil, bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tanbu. Di antaranya ke sekolah di Amil dan SDN Tunas Nelayan di Desa Pulau Burung membawa buku, permainan edukatif, dan aktivitas literasi.
Selanjutnya pertemuan dan pelatihan anggota komunitas. Kegiatan ini meliputi diskusi dan pelatihan kerja sama. Keempat, Pelatihan Entrepreneurship untuk Pemuda.
